Penyakit Aneh Kalo Kumat Doyan Makan Tembok Dan Genteng

Posted by tanpa nama On Kamis, 21 Oktober 2010 0 komentar
Meski sudah berobat secara medis dan mendatangi ratusan pengobatan alternatif, kebiasaan Bastiawan ngrikiti atau memakan secuil-secuil benda-benda `aneh` tidak hilang. Pengobatan yang menelan jutaan rupiah itu membuat orangtua Bastiawan terbelit utang.
M Taufik
Tuban
Bastiawan, 12, bocah kelas 5 SD asal Dusun Randu Geneng, Desa Cempoko Rejo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, memiliki kebiasaan aneh. Yakni memakan tanah, genting, kayu, bambu dan tembok hingga beberapa sudut rumahnya geripis atau cuil-cuil sedikit akibat ulahnya itu.
Kebiasaan aneh tersebut dilakukan anak kedua pasangan Edy Priyanto, 43, dan Riniyatin, 37, diduga akibat penyakit kelainan empedu yang dideritanya sejak lahir dan tak kunjung mendapat pengobatan.
“Biasanya dia memakan tembok atau genting ketika sedang sepi. Sebab, kalau ketahuan orang lain dia seperti malu,” ungkap Mining, 60, nenek Bastiawan.
Saat Surya berkunjung ke rumah sederhana yang berada di sekitar tambak garam Desa Cempoko Rejo, sejumlah keluarga sedang berkumpul di depan rumah menemani Bastiawan dan adiknya, Latifatul Rustiana, 10, yang saat ini duduk di bangku kelas 4 SD.
“Ini Bastiawan. Tapi, bapaknya sedang ke Surabaya mengantarkan seseorang. Sedangkan ibunya bekerja jadi pembantu rumah tangga di Malaysia sejak 3 tahun lalu,” ujar Mining sambil menunjukkan bocah dekil tak berbaju, yang perutnya tampak besar seukuran bola basket.
Warna gelap kulit bocah malang penderita kelainan empedu ini jika diperhatikan tampak kekuning-kuningan akibat penyakit yang dideritanya. Sedangkan perutnya yang besar itu, jika dipegang tenyata sangat keras seperti batu. “Auh…sakit,” jawab Bastiawan saat ditanya keadaan perutnya seraya memeluk sang nenek sambil merintih.
Diceritakan Mining, penyakit aneh itu diderita cucunya sejak lahir. Awalnya, ketika Bastiawan berusia 7 bulan terdapat benjolan sebesar ibu jari orang dewasa di bagian kiri perutnya. Semakin hari, benjolan itu semakin membesar hingga merata di seluruh bagian perutnya.
Sejak berusia sekitar satu tahun, kebiasaan aneh Bastiawan muncul. Saat bermain di depan rumah ia kerap mengambil tanah kemudian dimakannya begitu saja. Tak hanya itu, kala berada di sungai, ia juga dengan enaknya mengambil tanah liat untuk dimakan. “Yang paling sering ketahuan adalah, dia memukuli tembok menggunakan batu kemudian memakan runtuhan tembok itu,” sambung Mining.
Kebiasaan aneh itu, lanjutnya, paling sering dilakukan Bastiawan ketika penyakitnya kambuh. Kalau sudah kumat, ia mulai tidak mau makan nasi yang dimasak oleh sang ibu. Tetapi, ketika rumah sedang sepi ia memilih memakan tanah atau runtuhan tembok rumahnya. Kejadian itu berlangsung selama bertahun-tahun. Keluarga sebetulnya sempat khawatir. Namun, ketidakmampuan ekonomi keluarga membuat Bastiawan tidak bisa mendapatkan perawatan yang layak secara medis. Sehari-hari, ayahnya Edy Priyanto yang bekerja sebagai nelayan biasa, sudah harus banting tulang untuk menghidupi istri dan tiga anaknya.
Dikatakan Mining, cucunya itu pernah beberapa kali dibawa ke dokter. Bahkan, Bastiawan sempat dua kali dirawat di RSU Dr Soetomo Surabaya. “Beberapa tahun lalu, dua kali menginap di rumah sakit Dr Soetomo. Pertama selama 15 hari dan yang kedua sampai 9 hari. Tapi, karena tidak punya uang, terpaksa dia dibawa pulang lagi,” imbuhnya.
Selain cara medis, keluarga juga berpuluh atau bahkan beratus kali mendatangi tempat pengobatan alternatif. Berbagai jamu atau ramuan yang didapat juga sudah diminumkan. Namun, hasilnya tetap saja nihil. Sampai-sampai, keluarga sederhana ini punya banyak hutang untuk biaya Bastiawan.
Akhirnya, ibu Bastiawan, Riniyatin, tiga tahun lalu terpaksa berangkat ke Malaysia menjadi TKW (tenaga kerja wanita) untuk mencari uang guna pengobatan sang anak serta mengembalikan utang yang menjadi tanggungan keluarga.
Selama ini, masih kata Mining, keluarganya tidak pernah mendapat kartu Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarkat) atau sejenisnya dalam pengobatan Bastiawan. Pernah mereka dapat keringanan pengobatan saat di Surabaya karena ayah Bastiawan mengurus SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) dari desa.
Bastiawan sehari-hari juga bersekolah dan bermain layaknya bocah yang lain seusianya. Namun, rutinitas itu sering terganggu akibat penyakit yang dideritanya.
“Sering, pas di sekolah tiba-tiba penyakitnya kumat dan dia merasa sakit di perut. Oleh guru, dia lantas disuruh pulang,” ujar Mainal Nahib, 12, teman satu kelas Bastiawan.
Latifatul Rustian mengaku kasihan melihat kondisi kakaknya itu. “Dia tidak pernah cerita apa-apa. Paling-paling juga menangis kalau pas kesakitan,” jawab gadis cilik yang duduk di bangku kelas 4 SD ini enteng.
Kondisi Bastiawan sudah bukan rahasia lagi bagi warga kampungnya. Beberapa dari mereka mengaku kerap melihat langsung ulah Bastiawan yang aneh itu. “Gedhek (anyaman bambu) rumah saya saja banyak yang rusak dimakan Bastiawan ini. Tapi, dia selalu malu saat ulahnya itu ketahuan,” ujar Siti, tetangga depan rumah.
Menurut dokter Bambang Lukmantono, kebiasaan makan tanah liat atau benda-bendara keras yang dilakukan Bastiawan tidak ada hubungannya dengan penyakit kelainan empedu. “Tidak ada korelasinya antara kelainan empedu dengan kebiasaan makan seperti itu. Kemungkinan, terjadi keterbelakangan mental atau ada kelainan dari organ tubuhnya sejak lahir yang menyebabkan dia makan tidak wajar,” kata Bambang.
“Selain gangguan empedu dan livernya, kemungkinan juga terjadi multi kelainan,” tambah Direktur Rumah Sakit (RS) Bina Husada, Tuban, ini.n

0 komentar:

Poskan Komentar